Selasa, 09 Februari 2016

Ujaran Sederhana Penuh Cinta


Adalah Muslim bin Khalid Az-Zanji, seorang ulama ahli fiqh Makkah, yang sanad keilmuannya bersambung hingga Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, suatu hari melihat sesosok bocah dengan perawakan menarik, penuh semangat, sorot matanya tajam. Bocah ini dilihatnya sedang mengucap-ucap hafalan bait-bait syair Arab dengan sangat indah, fasih, merdu. Ditanyailah pemuda itu, “Nak, bisakah kau ulangi lagi untukku yang kau lafalkan tadi?”
Bocah tadi kembali mengulangi lafalnya dengan gaya bahasa yang tinggi, persis seperti sebelumnya,
“Siapa namamu wahai pemuda yang mulia?”,
“Aku Muhammad bin Idris,” jawabnya.

Dan setelah berbincang lebih lanjut, tahulah Muslim bin Khalid Az-Zanji bahwa bocah ini berdarah Quraisy, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang juga berdarah Quraisy.
“Lalu, apa yang kau lakukan di kota ini, wahai anakku?” tanyanya penuh kelembutan
“Aku sedang belajar bahasa, nahwu dan sharafnya serta menghafalkan syair-syair Arab.”
“Oh begitu, ketahuilah anak muda, sungguh alangkah indahnya jika kefasihan lisanmu dan merdunya suaramu itu digunakan untuk menjaga Sunnah Rasulullah, menyampaikan hukum-hukum syari’at kepada manusia, dan mengajari mereka fikih sehingga mampu memahami agama.”
            Rupanya kekata sederhana yang dilontarkan oleh Muslim bin Khalid menjadi bara api penyemangat bagi Syafi’i muda untuk mengembara belajar. Menghafalkan Al-Qur’an di usianya yang masih 7 tahun, menyetorkan hafalan kitab Al-Muwaththa’ kepada Imam Malik di usia 10 tahun, serta mengkaji karya Ibnul Mubarak dan semua hadits Imam Waki’ dengan hafalan dan penguasaan yang sempurna. Hingga kemudian, di usianya yang masih 15 tahun, Muhammad bin Idris kembali ke Makkah. Lalu dengan penuh ta’zhim, gurunya, Muslim bin Khalid Az-Zanji menggamit lengannya seraya berkata, “Berfatwalah, sungguh telah tiba saatnya bagimu untuk berfatwa.”
            Dan lalu, inilah yang pernah diungkapkan oleh Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i suatu waktu, “Sungguh, seandainya tak ada Muslim bin Khalid Az-Zanji, tak kan ada Asy-Syafi’i, mungkin hanya seorang penyair gelandangan yang kebingungan kesana-kemari.”
            Masya Allah! Ya, mungkin kita merasa yang pernah diujarkan seorang Muslim bin Khalid Az-Zanji kepada anak ingusan macam Asy-Syafi’i muda sebagai sesuatu yang sangat sederhana, biasa saja. Tapi ternyata, kekata itu menyengat kuat Muhammad bin Idris rahimahullah hingga akhirnya dengan izin Allah, menjadi seorang faqih.
Maka wahai Ikhwah, berbicaralah yang santun kepada saudaramu, sejawatmu, bahkan kepada yang lebih muda darimu, lebih-lebih kepada ibu bapakmu, karena bisa jadi melalui lisanmu yang mulia lah seorang mendapatkan hidayah, tersengat untuk memperbaiki kualitas diri semacam Asy-Syafii. Sekilas memang tampak sederhana, tapi di sisi Allah bisa jadi ujaran kita menjadi pemberat timbangan kebaikan, sekaligus penggugur kesalahan
Maka wahai para orang tua dan pendidik yang mulia. Berujarlah yang baik kepada murid-muridmu. Bisa jadi kau adalah inspirasi keteladanan bagi mereka. Mata air bagi dahaga mereka. Takutlah pada Allah jika sampai meninggalkan generasi penerus yang lemah akibat ujaran buruk yang kita lontarkan. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka generasi yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” [QS. An-Nisa’: 9].
Tepatlah yang disabdakan Nabi kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Janganlah meremehkan hal ma’ruf sekecil apapun,” kebajikan itu waluapun pada mulanya kecil dan seakan tak berarti, tapi ia terus tumbuh, membesar, memberikan semangat, harum, dan menyenangkan. Sebaliknya keburukan walaupun mulanya menggaung besar, tapi lambat laun akan keropos, ambruk, melemahkan, dan berbau busuk. Sekali lagi, jangan remehkan ujaran baik kita walupun mungkin sederhana!
Menutup tulisan ini, mari kita simak ayat Allah berikut, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” [QS. Al-Ahzab: 70-71].

Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari keburukan pendengaran kami, keburukan penglihatan kami, keburukan lisan kami, dan keburukan hati kami..

*Dikutip dengan banyak perubahan dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah" karya Salim A.Fillah

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar