Minggu, 23 Agustus 2015

Pengen Gak Bisa Baca Qur'an Pake Nada yang Keren??


Termasuk kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim adalah membaca Al-Qur'an dengan nada yang indah, karena kata Rasulullah, "Bukan golonganku siapa yang tidak nelagukan bacaan Al-Qur'an (membaca Al-Quran dengan suara yang merdu)" [HR. Bukhori]. Ya, jadi tidak sekadar bisa baca Al-Qur'an saja, tapi juga membaca dengan suara yang merdu dengan tetap memperhatikan tajwid dan tahsinnya.

Perintah Nabi untuk memperindah bacaan Al-Qur'an bukanlah tanpa alasan. Memperindah bacaan Al-Qur'an akan mendorong orang untuk mentadabburi maknanya lho. Contoh gampangnya, pas tarawih nih, kita bakalan lebih khusyu' kalau yang ngimamin suranya bagus kan? mau bacaannya sepanjang apapun kalau suaranya indah orang akan lebih betah. Ya nggak? smile :-)

Nah, entah kenapa saya sudah sering sekali ditanya orang, "Gimana ya mam caranya biar bisa baca Qur'an dengan nada bagus kayak syekh-syekh yang di murottal itu? "

Dulu ketika ada orang yang tanya seperti itu pasti selalu saya jawab, "Udah, dengerin aja murottal, berkali-kali ya, jangan lupa belajar tahsin juga.", Mesti saya jawab seperti itu. Tentu saja jawaban seperti ini kesannya 'enak di saya, tapi gak enak bagi yang nanya', hehe.. karena memang waktu itu saya belum punya solusi yang benar-benar aplikatif dan bisa diterapkan ke setiap orang.

Belum lama ini alhamdulillah, saya menemukan sedikit titik terang mengenai solusinya. Beberapa waktu yang lalu, ketika saya berada di salah satu masjid di jakarta. saya dengerin tuh tabligh akbar dari salah seorang ustadz, 2 jam panjang lebar beliau jelaskan. Hanya tentang bagaimana cara membaca Qur'an supaya enak didengar orang, hehe... Menarik!

Saya yakin semua orang pasti mampu melakukan ini, dan kalau dilakukan dengan benar, saya jamin pasti dalam waktu yang gak lama, bacaan Qur'annya akan mirip seperti nadanya syeikh-syeikh yang kita dengar di murottal itu.

Mau tahu caranya? hehe.. Biar enak saya bikin poin-poin:

1. Coba, suatu waktu dengarkan bacaan murottal yang kira-kira enak dan pas dengan suara 'antum', murottal syaikh misyari, mahir muaqly, suraim, khalifa tunaji, fahd al-kandari atau syaikh ghomidi, dll.

2. Setelah nemu yang sesuai, misalnya murottal syaikh Mahir Muaqly, download mp3 Al-Fatihahnya aja. Udah! atau kalau pengen gampang install aja aplikasi 'Ayat', kalau udah, tinggal download Al-fatihahnya.

3. Dengarkan bacaan bismillahnya kayak apa, satu ayat aja, bismillah aja! Putar sampai 40 kali. Perhatikan liak-liuk nadanya. terus ikuti, terus ikuti, terus ikuti, ulangi sampai 40 kali dalam sehari. Udah, udah, cukup. Belajarnya selesai hari ini.

4. Besoknya, dengerin lagi bacaan alhamdulillahnya kayak apa, satu ayat aja ya, jangan lebih, putar lagi, lagi, lagi sampai 40 kali. terus coba ikuti liak-liuknya sampai bener-bener mirip. Kalau belum mirip jangan berhenti nyoba. pokoknya coba terus sampai benar-benar mirip. kalau udah mirip, udahan dulu. Cukup belajarnya. Besok lagi ya!

5. Hari ketiga, dengerin lagi Ar-rahmanirrahim.. kayak gimana nadanya. putar sampai 40 kali terus, ulangi sampai bener-bener mirip.

6. Dengan cara yang sama, dalam waktu satu minggu, 'antum' bakalan sudah menguasai bacaan Al-Fatihah ala syaikh Mahir Muaqly. Insya Allah bi idznillah.

Lumayan kan? seminggu udah bisa pake nadanya syaikh mahir muaqly, minggu besoknya ganti belajar nadanya syaikh misyari misalkan, minggu depannya lagi pake syaikh sudais, dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya yakin, kalau ini dipraktekkan dengan benar, bacaan kita akan jadi lebih bagus, ya minimal mirip-mirip lah kayak murottal, entah kw-nya yang kw berapa, hehe.. Yang penting mirip. nanti kalau udah terbiasa bisa kita modifikasi sendiri nadanya terserah kita.

Mudah-mudahan yang sedikit ini bisa memacu kita untuk terus belajar Al-Qur'an, karena ikhwah fillah.. tugas kita terhadap Al-Qur'an ternyata masih banyak. Selain membacanya, juga mentadabburinya, mengamalkan, mengajarkannya, mendakwahkannya, bahkan hingga memperjuangkannya lho. Padahal, ternyata kita saat ini masih belum beres dengan tugas pertama, yaitu membaca Al-Qur'an. Maka ini harus cepat kita selesaikan supaya kita bisa mengerjakan tugas-tugas lainnya kaitannya dengan Al-Qur'an. Kalau ini tidak segera kita selesaikan, entah kapan kita bisa selesai dengan tugas-tugas lainnya.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami suara yang indah sebagaimana suara Nabi Daud 'alaihis salam ketika membaca Zabur, yang mana karena suaranya, angin pun berhenti berhembus, dan gunung-gunung ikut bertasbih akan keagungan-Mu.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami suara yang indah sebagaimana suara sahabat Abu Musa Al-Asy'ari yang mana ketika orang mendengarkan bacaan Al-Qur'an-nya, akan semakin bertambah keimanan mereka.

Aamiin, wa 'akhiru da'wana anil hamdulillahi robbil 'alamiin.

Kamis, 09 Juli 2015

Tazkiyatun Nafs, Konsep Penyucian Jiwa dalam Islam


sumber gambar: al-manar.co.id

Apa itu Tazkiyatun Nafs?
      Secara bahasa berasal dari dua kata, yaitu tazkiyah yang berarti menyucikan, membersihkan, serta menumbuhkan, karena itulah sedekah harta dinamakan zakat, dengan dikeluarkannya hak Allah dari harta itu, ia menjadi suci, bersih. Dan an-nafs yaitu jiwa.
Tazkiyatun nafs secara istilah maknanya mencakup, 1)Tathohhur, membersihkan jiwa dari segala penyakit hati dan cacat, seperti kekufuran, nifaaq, kefasikan, bid’ah, syirik, riya’, dengki, sombong, bakhil, cinta pangkat dan kedudukan, dhalim, cinta dunia, serta mengikuti hawa nafsu, 2)Tahaqquq, yaitu merealisasikan kesucian jiwa dengan sikap tauhid dan cabang-cabangnya seperti, ikhlas, zuhud, tawakkal, taqwa dan wara’, syukur, dan sabar. Serta 3)Takhalluq, yaitu berperilaku dengan nama-nama Allah yang indah (Asmaaul Husna) dan meneladani sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tazkiyatun nafs (membersihkan/menyucikan jiwa) merupakan salah satu misi diutusnya para Rasul di dunia disamping misi ta’lim (mengajarkan hidayah-Nya) dan tadzkir (memberi peringatan akan ayat-ayat-Nya), sebagaimana doa Nabi Ibrahim untuk anak cucunya,
“Wahai Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Baqoroh: 129].
Begitu pula jawaban dan karunia Allah atas umat ini dalam Al-Qur’an,
     “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. [Al-Baqoroh: 151].
           

Mengapa Perlu?
Sebagaimana disebutkan dalam nash yang shahih, para ulama’ merupakan pewaris para nabi, sehingga misi utama mereka adalah ta’lim, tadzkir, dan tazkiyah kepada umat. Namun, jarang sekali ketiga hal ini berhimpun pada seseorang, ada orang yang piawai dalam tadzkir (menyampaikan nasihat), tapi tidak banyak berilmu (banyak ta’limnya); ada orang yang berilmu (bagus ta’limnya) tapi tidak piawai dalam menyampaikan nasihat (tadzkir); ada orang yang berilmu dan piawai dalam menyampaikan nasihat tetapi tidak mampu melakukan tazkiyah. Siapa yang memiliki ketiga hal ini, maka ia adalah pewaris kenabian yang utuh karena ia telah memiliki ‘obat kehidupan’.
Saat ini, para murabbi (pendidik, pembina) dihadapkan pada berbagai kondisi umat yang begitu mengkhawatirkan; berbagai kemaksiatan merajalela, penyakit-penyakit hati tersebar luas, mu’amalah yang baik terasa sangat lemah, bahkan jihad dan amar ma’ruf nahi mungkar dianggap sesuatu yang asing. Maka siapapun (termasuk kita) yang ingin memperbaiki kehidupan pribadi dan sosial, menginginkan terjadinya revolusi mental dan akhlak, dan mengharapkan kembalinya kejayaan umat ini, harus berpikir untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, berhias dengan akhlak beliau, serta membersihkan jiwa (tazkiyah) dari berbagai naluri syaithoniyyah.
Fitrah manusia bisa terkontaminasi dan ternodai oleh penyakit dan masalah yang dapat muncul sepanjang zaman, disamping setiap zaman memiliki penyakit dan masalahnya sendiri. Semenjak abad pertama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, telah bermunculan aliran murji’ah, syi’ah, mu’tazilah dan khawarij. Inti ajaran murji’ah adalah meninggalkan amal. Inti syi’ah adalah berlebih-lebihan dalam masalah ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Inti ajaran khawarij adalah ketumpulan akal, terburu-buru mengkafirkan, tidak menghormati orang-orang yang memiliki keutamaan, dan iman mereka tidak melewati kerongkongan. Sementara inti ajaran mu’tazilah adalah terburu-buru melakukan ta’wil yang tidak ilmiah. Aliran-aliran seperti ini dianggap sebagai masalah sepanjang zaman yang bisa muncul terus menerus. Demikian juga penyakit yang terus menerus muncul di sepanjang zaman sebagaimana ditegaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Menjalar diantara kalian penyakit-penyakit umat sebelum kalian, yaitu dengki dan permusuhan…” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, hadits ini shahih).
            Disamping itu, setiap zaman punya penyakit dan masalahnya sendiri, diantara penyakit zaman kita sekarang adalah seperti yang diisyaratkan oleh beberapa nash,
“Ilmu yang pertama kali diangkat dari bumi adalah kekhusyukan(HR. Thabrani dengan sanad hasan).
“Tetapi kalian seperti buih banjir…dan sungguh Allah akan menanamkan dalam hati kalian…cinta dunia dan takut mati(HR. Abu Dawud dengan sanad hasan)
Kita dapat merasakan dan melihat bahwa zaman kita saat ini adalah zaman dimana kekhusyukan sangat sedikit, sementara sikap cinta dunia dan takut mati mendominasi umat ini. Ibadah-ibadah fardhu hanya dilakukan sebatas menggugurkan kewajiban saja, orang semakin disibukkan dengan berbagai urusan dunia, berlomba-lomba menumpuk kekayaan dan melupakan kampung akhirat.
Oleh karena itu, tentunya jiwa manusia sangat membutuhkan tazkiyah dari penyakit-penyakit tersebut. Maka, seorang ‘alim (guru atau syaikh) yang robbani ialah orang yang (dengan izin Allah) mampu mengobati dan menghilangkan penyakit-penyakit tersebut dari umat. Dan itulah tanda keberhasilannya dalam tazkiyah.
Siapapun yang mengharapkan Allah dan hari akhir, sudah seharusnya memperhatikan kebersihan jiwanya. Sungguh Allah telah menjadikan kebahagiaan seorang hamba tergantung kepada tazkiyatun nafs, sebagaimana disebutkan Allah dalam surat Asy-Syams setelah Allah bersumpah dengan sebelas sumpah secara beruntun, ini menunjukkan suatu keistimewaan yang tidak dimiliki hal lainnya.
“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syams: 9).
Perlu diingat, bahwa tujuan dari tazkiyatun nafs adalah muhasabah, yaitu melakukan introspeksi, koreksi, dan perbaikan terhadap niat, amalan, dan sikap kita. Bukan untuk kemudian menganggap suci diri dari kesalahan yang mana dilarang secara tegas oleh Allah Azza wa Jalla,
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui siapa yang bertakwa”. (QS. An-Najm: 32).

Sarana Tazkiyatun Nafs
            Sarana tazkiyah yang dimaksud disini adalah berbagai amal yang secara langsung mempengaruhi jiwa sehingga terbebas dari penyakit-penyakit, dan mampu merealisasikan iman dan akhlak islami jika dilakukan secara sempurna. Walaupun secara umum semua amalan bisa masuk dalam kategori ini, tetapi ada beberapa amalan yang lebih jelas pengaruhnya pada jiwa dibandingkan dengan amalan lainnya.
            Diantara amalan-amalan tersebut yang paling utama adalah shalat, zakat, infaq, puasa, haji, tilawah Al-Qur’an, dzikir dan tafakkur, mengingat kematian, muhasabah, muroqobah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, serta bersikap tawadhu’ (rendah hati). Tentunya itu semua didasari oleh sikap tauhid, membersihkan hati dari berbagai karat kesyirikan dan akibatya seperti, ‘ujub, riya’, dengki, dan lain sebagainya.
         Shalat berikut rukuk dan sujudnya akan membersihkan jiwa dari kesombongan kepada Allah, mengingatkan jiwa agar selalu istiqomah di atas perintah-Nya, serta mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat dan infaq mampu membersihkan jiwa dari sifat bakhil dan kikir, dan menyadarkan manusia bahwa pemilik harta sesungguhnya adalah Allah Azza wa jalla. Sementara puasa merupakan pembiasaan jiwa untuk mengendalikan syahwat perut dan kemaluan. Membaca Al-Qur’an dapat mengingatkan jiwa terhadap berbagai kesempurnaan, seorang mukmin akan tumbuh dan bertambah keimanannya jika dibacakan ayat-ayat-Nya, itulah sebabnya tilawah Al-Qur’an merupakan sarana tazkiyah. Dzikir dan fikir merupakan dua sejoli yang dapat memperdalam iman dan tauhid di dalam hati, serta membukakan hati manusia untuk menerima ayat-ayat-Nya. Mengingat kematian dapat menyadarkan seorang akan ketidakberdayaannya di hadapan Allah dan bahwa semua makhluk akan kembali pada-Nya. Muroqobah dan Muhasabah terhadap jiwa dapat menyegerakan taubat sehingga jiwa manusia terdorong untuk melakukan perbaikan. Dan tidak ada yang lebih efektif untuk menanamkan kebaikan pada jiwa serta menjauhkannya dari keburukan selain amar ma’ruf nahi munkar, maka orang yang tidak memerintahkan kebaikan dan tidak mencegah kemungkaran berhak mendapatkan laknat dari Allah sebagaimana Bani Israil yang enggan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Jihad merupakan sarana tazkiyah yang paling tinggi, tidak ada yang mampu melakukannya kecuali orang yang diberi keutamaan oleh Allah. Orang yang berjihad  di jalan Allah terbebas dari sifat kikir dan takut karena ia mengorbankan jiwa-Nya untuk Allah, dan mati syahid di jalan-Nya adalah penghapus dosa. Disamping itu semua, sikap tawadhu’ akan menjauhkan seseorang dari sombong dan ‘ujub (bangga diri), sekaligus memperkuat rasa kasih sayang dan lemah lembut kepada sesama muslim.

Buah dari Tazkiyatun Nafs
       Seseorang yang senantiasa bermuhasabah terhadap amal-amalnya, melakukan tazkiyah terhadap jiwanya dengan berbagai sarana tazkiyah secara sempurna dan memadai, sekaligus mempelajari, mengkaji, dan mengamalkan yang diketahuinya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah pasti akan tampak buah tazkiyah pada diri dan perilakunya, lisannya terjaga dari mengucap yang tidak semestinya, serta tercermin pada adab dan muamalahnya yang baik kepada Allah dan sesama manusia. Wallahu A’lam Bish Showab.

           
Referensi:
- Al-Mustakhlis fii Tazkiyatil Anfus, karya Syaikh Sa’id Hawwa
- Tazkiyatun Nafs wa Tarbiyatuha kama Yuqorriruhu ‘Ulama’ as-Salaf, karya Dr. Ahmad Farid

Minggu, 21 Juni 2015

[Bacalah Terus Al-Qur'an, Walaupun Kau Tak Hafal]


Ada seseorang yang senang membaca Al-Qur'an padahal dia tidak hafal sedikitpun dari ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacanya. Ia lalu ditanya oleh anaknya yang masih kecil, "Ayah, apa manfaatnya Engkau membaca Al-Qur'an sementara Ayah tidak menghafalnya sedikitpun?"  

"Nak, aku akan beritahu kamu rahasianya, hanya jika kamu bisa mengisi keranjang berlubang ini dengan air laut tanpa bantuan apapun." kata Ayahnya sambil menunjuk ke keranjang yang sangat kotor.

"Wah, itu mustahil, Ayah.." kata anaknya. "Keranjang ini kan fungsinya untuk ngangkut benda padat."

Sang anak lalu mengambil air laut dengan keranjang tadi dan bersegera mendatangi Ayahnya, tetapi air yang diambilnya tumpah habis semua "Tuh, kan.. Ayah, nggak ada gunanya."

"Coba ulangi kedua kalinya." kata Ayahnya. Sang anak mengambil air lagi untuk kedua kalinya, tapi ia tetap tidak bisa mendatangkan air di hadapan Ayahnya. 

Ia terus mencoba untuk kali keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya hingga ia merasa lelah karena kecapekan, "Ayah, ini tidak mungkin bisa diisi oleh air." katanya

"Hmm.. begitu ya, coba perhatikan! Apakah ada sesuatu yang berubah dari keranjang itu, Nak.?!" kata sang Ayah. Sang anak lalu memperhatikan keranjang tersebut..

"Ya, Ayah.. Keranjang itu sekarang terlihat sangat bersih,  padahal sebelumnya kotor sekali." 

Sang Ayah kemudian menjelaskan, "Nak, ketahuilah.. Inilah yang dilakukan Al-Quran terhadap hati dan jiwamu, Ketika perkara-perkara dunia terkadang bisa membuat hatimu kotor, Al-Quran itu seperti air laut yang akan membersihkan jiwamu, bahkan walaupun Kamu tidak hafal sesuatu darinya sedikitpun"

Yuk, Terus baca Qur'an, Usahakan bisa khatam sekali selama bulan Ramadhan. Semoga Kehidupanmu menjadi baik dengan Dzikrullah :-)

#kultumRamadhan

Rabu, 18 Februari 2015

40 Hadis Shahih Dengan Sanad Sama, Yuk Belajar !


Beberapa hari yang lalu saya sempet baca ebook karya Dr. Ahmad Luthfi Fathullah, MA. Beliau seorang kyai yang juga kontributor di pusatkajianhadis.com. Belum selesai saya baca buku 40 Hadis Mudah Dihafal karya beliau. saya sudah punya pikiran, "Ini buku unik banget." :))

Uniknya, karena ada 40 hadis dengan sanad sama, yang tentunya akan lebih mudah untuk dihafal dan dipelajari. Kita hanya butuh menghafal sanad nya sekali saja, kemudian menghafalkan matan masing-masing hadisnya. Maasya Allah!

Nah, apa keuntungan menghafal hadis? 


Menghafal hadis merupakan sunnah para salafush shalih. Imam Bukhari misalnya, beliau hafal 600 ribu hadis, baik yang shahih ataupun tidak, lengkap dengan matan dan sanadnya. Lalu, Imam Ahmad yang hafal sekitar 1 juta hadis, lengkap dengan matan dan sanadnya. dan lain sebagainya. Tentunya mereka menghafalkan hadis setelah terlebih dahulu menghafal Al-Qur'an.

Dengan menghafal hadis yang shahih, seseorang akan lebih nyaman dalam beribadah karena dia punya dasar yang kuat, sekaligus menjadi bukti cintanya kepada Rasulullah Shallahu'alaihi wasaalam. Juga, akan membuat kita kenal dengan para rawi hadisnya sehingga ada keinginan untuk 'minimal' ingin seperti mereka. Maka, tak heran jika seorang ahli hadis, biasanya dia juga ahli sejarah, juga ahli fiqih. Karena semuanya saling berkaitan.

Saya akan ringkaskan isi bukunya, dan mungkin akan sedikit panjang pembahasannya karena saya akan bawakan sanad, terjemahan matan masing-masing hadisnya beserta penjelasan jika diperlukan. Anda juga bisa membaca lebih lengkap buku aslinya yang berbahasa Indonesia, bisa didownload gratis di sini

Thoyyib! Jadi, sanad 40 hadisnya tadi dapat dibuat skema seperti ini:

Imam Bukhori >> Abdullah bin Yusuf >> Malik >> Nafi' >> Abdullah bin Umar >> Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam. Bunyi aslinya begini:

قال الامام البخاري رحمه الله حدثنا عبد الله ابن يوسف قال أخبرنا مالك عن نافع عن عبد الله ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال:

"Imam Bukhari Rahimahullah berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi' dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalllam bersabda...."

1. "Jika salah seorang kalian mendatangi shalat jum'at, hendaklah ia mandi."

2. "Shalat berjama'ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat"

3. "Orang yang kehilangan shalat ashar seperti orang yang kehilangan keluarga dan hartanya"

4. "Janganlah salah seorang dari kalian sengaja shalat ketika matahari sedang terbit atau saat terbenam"

5. "Jika seseorang diantara kalian diundang ke acara walimah, hendaklah ia menghadirinya"

6. "Menjadi kewajiban seorang muslim yang ingin mewasiatkan sesuatu, lalu berlalu dua malam kemudian, kecuali wasiat itu sudah tertulis"

Kandungan Hadis Pesan baik yang ingin dilakukan dapat ditulis dalam bentuk wasiat karena manusia tidak tahu kapan ajal datang.

7. "Barangsiapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukan golongan kami"

Kandungan Hadis: Orang yang mengancam, memusuhi, atau memerangi kaum muslimin, mereka dapat dikategorikan bukan lagi muslim.

8. "Dua orang yang melakukan jual beli, masing-masing punya hak (khiyar) pilihan atas teman jual belinya selama keduanya belum berpisah, kecuali jual beli yang sudah disepakati pilihannya"

9. "Siapa yang membeli makanan janganlah dia menjualnya sebelum menjadi haknya secara sempurna"

10. "Janganlah sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain dan janganlah pula kalian menyongsong dagangan hingga dagangan itu sampai di pasar-pasar"

Kandungan Hadis: Islam melindungi hak konsumen serta melindungi hak para pedagang.

11. "Siapa yang menjual pohon kurma yang telah dikawinkan maka buahnya nanti menjadi hak penjual kecuali disyaratkan oleh pembeli"

Kandungan Hadis: Prinsip jual beli banyak ditentukan oleh syarat yang disepakati.

12. "Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau anjing untuk berburu, maka pahalanya akan berkurang dua qirath setiap hari"

Kandungan Hadis: Ancaman yang melanggar larangan ini adalah amalan ibadahnya akan berkurang 2 qirath. Satu qirath diumpamakan sebesar gunung Uhud.

13. "Barangsiapa meminum khamr di dunia dan tidak bertaubat, maka akan diharamkan baginya di akhirat kelak"

14. "Bagi penduduk Madinah bertalbiyah (memulai haji) di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam bertalbiyah di Al-Juhfah, bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil."
Abdullah berkata: Telah sampai berita kepadaku bahwa Rasulullah juga bersabda: "Dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam"

Kandungan Hadis: Rasulullah menentukan batasan miqot untuk memulai ihram. Miqot-miqot yang disebutkan di sini berlaku selamanya, bukan karena jarak. Tidak boleh merubahnya dengan alasan kemudahan atau kesamaan.

15. "Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya." Orang-orang berkata: "Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah? Beliau tetap berkata: "Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya." Orang-orang berk
ata, lagi: "Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?" Beliau baru bersabda: "Ya, juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya"

Kandungan Hadis:
Mencukur rambut di sini maksudnya pada saat haji. Rasulullah menghargai usaha yang lebih.

16. "Sesungguhnya perumpamaan para penghafal al-Qur’an adalah seperti seorang yang memiliki Unta yang terikat, jika ia selalu menjaganya, maka ia pun akan selalu berada padanya, dan jika ia melepaskannya, niscaya akan hilang dan pergi"

17. "Barangsiapa yang membebaskan hak kepemilikan budak yang dimiliki secara berserikat (bersama), dan ia mempunyai harta yang bisa mencapai total harga budak, hendaklah harga budak ditaksir secara adil dan dibebankan kepadanya, lantas ia membebaskan hak kepemilikan yang masih dimiliki serikatnya, lalu ia bebaskan budak tersebut secara keseluruhan. Jika ia tidak mempunyai harta (sejumlah harga total budak tersebut), berarti ia telah membebaskan hak kepemilikannya."

Kandungan Hadis: Islam menyarankan untuk memerdekakan budak, terlebih yang dimiliki bersama.

18. "Janganlah seseorang memeras susu ternak orang lain tanpa seizinnya. Apakah seorang dari kalian suka bila rumahnya didatangi lalu dirusak pintunya kemudian simpanan makanannya diambil. Karena sesungguhnya puting susu ternak mereka adalah makanan simpanan mereka, maka janganlah seseorang memeras susu ternak orang lain kecuali dengan izinnya"

19. "Aku diperlihatkan pada suatu malam di pelataran Ka’bah, aku melihat seorang laki-laki berkulit sawo matang, seperti orang yang paling tampan yang pernah kamu lihat dari kaum pria berkulit sawo matang, berambut lurus, dipapah dua orang laki-laki atau berada di antara dua pundak laki-laki dan rambutnya meneteskan air, dia berthawaf di Ka’bah. Aku bertanya: Siapakah orang ini? Dijawab: al-Masih Putra Maryam. 

Tiba-tiba muncul seorang lelaki berambut keriting, dan mata kanannya buta, seolah-olah matanya seperti buah anggur yang menjorok. Lalu aku bertanya: Siapakah orang ini? Dijawab: Dia al-Masih al-Dajjal (Dajjal)"

20. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata: "Pada masa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, laki-la
ki dan perempuan semuanya minta diajari berwudhu"

21. Dari
Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, bahwa: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum bagi setiap orang yang merdeka maupun hamba sahaya (budak), laki-laki maupun perempuan dari kaum Muslimin."

22. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, bahwa ada seorang dari sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang menyaksikan Lailatul Qadar dalam mimpi terjadi pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berkata:

"Aku memandang bahwa mimpi kalian tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir"

23. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu yang berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melarang puasa wishal. Orang-orang berkata: "Namun, bukankah Anda sendiri melakukan puasa wishal?" Beliau bersabda: "Aku tidak sama dengan keadaan seorang dari kalian karena aku diberi makan dan minum."

Kandungan Hadis: Rasulullah melarang puasa wishal yaitu menyambung puasa dengan malam atau bahkan esok. Rasulullah berbeda dengan manusia biasa. Diantara kelebihan yang diberikan Allah kepada Beliau adalah memberinya makan dari makanan langit.

24. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melihat ludah di dinding kiblat, lalu beliau menggosoknya kemudian menghadap ke arah orang banyak seraya bersabda: "Jika seseorang dari kalian berdiri shalat janganlah dia meludah ke arah depannya, karena Allah berada di hadapannya ketika dia shalat."

Kandungan Hadis: Jika terdapat sesuatu kesalahan, maka perbaikilah. Dan jika mampu, lakukan sendiri p
erbaikan itu. Lalu, jika terjadi suatu kesalahan yang umum, tidak perlu mencari tahu siapa pelakunya, cukup untuk mengingatkan dan memperbaikinya.
 
25. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam masuk ke dalam Ka’bah bersama Usamah ibn Zaid, Bilal dan ‘Usman ibn Thalhah Al-Hajabi kemudian pintu ditutup, dan beliau berada di dalamnya. Kemudian setelah beliau keluar aku bertanya kepada Bilal: "Apa yang dilakukan oleh Beliau di dalamnya?" Bilal menjawab: "Beliau menjadikan tiang berada di sebelah kiri, lalu satu di sebelah kanan dan tiga tiang berada di belakangnya --saat itu tiang Ka’bah berjumlah enam buah-- kemudian beliau shalat."

Kandungan Hadis: Boleh hukumnya masuk ke dalam Ka’bah dan boleh juga shalat di dalamnya.

26. Bahwa Ibnu Umar
radhiyallahu anhu pernah mengumandangkan azan pada suatu hari yang dingin dan berangin. Kemudian ia berkata: "Alaa Sholluu fir Rihaal (Shalatlah di tempat tinggal kalian)." Ia melanjutkan perkataannya: "Jika malam sangat dingin dan hujan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memerintahkan seorang mu’adzin untuk mengucapkan: "Shalatlah di tempat tinggal kalian."

27. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam biasa melaksanakan dua rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib di rumahnya, dan dua rakaat sesudah Isya. Dan beliau tidak mengerjakan shalat setelah Jum’at hingga beliau pulang, lalu shalat dua rakat.

28. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu bahwa: Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang sh
alat malam. Maka Rasulullah bersabda: "Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya."

29. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu bahwa: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam singgah di
Bathha’ di daerah Dzul Hulaifah, lalu Beliau shalat disitu. Dan Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu juga melakukannya seperti itu.

Kandungan Hadis: Dalam sebuah perjalanan, Rasulullah juga mempunyai daerah pilihan untuk beristirahat. Satu dari tempat itu adalah Bathha’ di daerah Zul Khulaifah. Abdullah ibn Umar selalu meniru Rasulullah saw sampai pada tempat istirahatnya.

30. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, Ada seorang laki-laki berkata, kepada Rasulul
lah Shallallahu alaihi wasallam: Pakaian apa yang harus dikenakan oleh seorang muhrim (yang sedang berihram)? Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjawab:

"Dia tidak boleh mengenakan baju, topi (sorban), celana, mantel kecuali seseorang yang tidak memiliki sandal, dia boleh mengenakan sepatu tapi dipotongnya hingga berada di bawah mata kaki dan tidak boleh pula memakai pakaian yang diberi minyak wangi atau wewangian dari daun tumbuhan."

31. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, bahwa Lafaz talbiyah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah: Labbaikallahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk. Laa syariika lak. (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat milik-Mu begitu pula kerajaan. Tidak ada sekutu bagi-Mu). 

32. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melarang menjual (anak) yang dikandung dalam perut unta. Cara itu merupakan jual beli orang-orang jahiliyyah, yang seseorang membeli sesuatu yang ada di dalam kandungan unta, hingga unta itu melahirkan, lalu anak unta tersebut melahirkan kembali

Kandungan Hadis: Rasulullah melarang jual beli jenis Habalul Habalah yaitu menjual anak yang ada dalam kand
ungan ternak sampai melahirkan lagi. Larangan jenis perdagangan seperti ini karena ketidakjelasan apa yang didagangkan.

33. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melarang al-Muzaabanah. Al-Muzaabanah adalah menjual kurma masak dengan kurma basah dengan timb
angan tertentu dan menjual anggur kering dengan anggur basah dengan timbangan tertentu.

Kandungan Hadis: Satu dari bentuk jual beli yang tidak jelas dan merugikan satu pihak adalah
jual beli cara Muzaabanah.

34. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mela
rang jual beli buah-buahan hingga sampai buah itu telah nampak jadinya. Beliau melarang untuk penjual dan pembeli.

Kandungan Hadis: Bentuk Perdagangan yang dilarang adalah menjual buah yang baru muncul (ijon). karena adanya pihak yang dirugikan. Larangan itu akan hilang dengan sendirinya jika buah itu sudah masak atau diketahui bentuk ukurannya.

35. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, bahwa Aisyah, Ummul Mu’minin berniat membeli seorang budak wanita untuk dibebaskannya. Maka tuan dari budak tersebut berkata bahwa perwalian budak tersebut tetap milik kami. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Hal itu janganlah menghalangi kamu, karena perwalian menjadi milik orang yang membebaskannya."

Kandungan Hadis: Dalam jual beli boleh meletakkan syarat. Namun syarat yang dibuat atau disepakati tidak boleh melanggar prinsip-prinsip agama yang sudah baku.

36. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melarang al-Syighar. Al-Syighar adalah sesorang menikahkan anak perempuannya kepada orang lain agar orang lain tersebut juga mau menikahkan anak perempuannya dengannya, sedangkan di antara keduanya tidak ada mahar.

37. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengirim sariyah (pasukan perang) dan Abdullah ibn Umar bergabung bersamanya menuju Najed. Kemudian mereka dapatkan ghanimah berupa unta yang cukup banyak. Masing-masing anggota pasukan mendapatkan bagian dua belas unta atau sebelas unta ditambah masing-masingnya dengan satu unta sebagai nafal (tambahan).

38. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah mempertandingkan antara kuda yang dipersiapkan untuk pacuan yang jaraknya dimulai dari al-Hafya’ sampai Tsaniyatul Wada’, dan kuda yang tidak disiapkan untuk pacuan yang dimulai dari al-Hafya’ hingga Masjid Bani Zuraiq. Abdullah ibn Umar adalah termasuk orang yang m
engikuti pacuan tersebut.

Kandungan Hadis:
Jika terdapat lomba-lomba yang bermanfaat, tidak salah kalau anda menjadi salah satu persertanya. 

39. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu bahwa beberapa orang Yahudi datang menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, kemudian bercerita kepada Rasulullah bahwa seorang pria dan wanita dari kelompok mereka berzina.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berkata kepada mereka: "Tidakkah kalian bisa dapatkan di Taurat tentang Rajam?" Mereka berkata: "Kami mempermalukannya dan mencambuknya."

Abdullah ibn Salam berkata: "Kalian sudah berbohong, sesungguhnya ada di dalamnya hukuman Rajam. Merekapun membawakan kitab Taurat dan membukanya. Salah seorang dari mereka menutupi dengan tangannya ayat Rajam dan membaca sebelum dan setelahnya. Abdullah ibn Salam pun berkata kepada si pembaca: "Angkatlah tanganmu itu," maka terlihat ada ayat Rajam di situ.

Mereka akhirnya berkata: "Muhammad benar, di dalamnya terdapat ayat Rajam." Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pun memerintahkan keduanya untuk dirajam lalu dirajamlah keduanya. Abdullah ibn Umar berkata: "Aku melihat orang yang laki-laki melindungi yang wanita dari lemparan batu."

Kandungan Hadis: Rasulullah sering ditanyai oleh orang-orang Yahudi. Lewat wahyu, beliau tahu persis isi Taurat. Banyak kandungan yang ada di Taurat sama seperti yang di al-Qur’an

40. Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu bahwa suatu hari Umar ibn al-Khatthab melihat pakaian terbuat dari sutera di depan pintu masjid. Beliau lalu berkata: Wahai Rasulullah, seandainya Engkau membeli pakaian ini dan memakainya pada hari Jum’at atau untuk menemui para utusan jika mereka datang menemuimu. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya yang memakai pakaian ini mereka yang tidak mendapatkan apa-apa diakhirat."
 
Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memperoleh beberapa pakaian, lalu Rasulullah memberikan satu potongnya ke Umar ibn al-Khatthab. Beliaupun berkomentar: "Wahai Rasulullah, Engkau memakaikan aku pakaian ini sedangkan Engkau pernah berkata tentang hal ini seperti yang pernah Engkau katakan." Rasulullah pun menjawab: "Saya tidak memberikannya untuk kamu pakai." Maka Umar pun memberikannya kepada salah seorang saudaranya yang masih musyrik di Makkah.