Senin, 29 Februari 2016

Mengaji, Bukan Bincang Biasa!



(Humamuddin – Mahasiswa Kedokteran 2013 FK UNS)

“Nabi mereka berujar, "Sesungguhnya Allah telah memilih pemimpinmu dan menganugerahinya ketajaman pikiran dan kekuatan fisik" – Q.S. Al-Baqoroh: 247

Untuk mengawali tulisan ini, dengan penuh khidmat, saya bawakan firman Allah yang mulia diatas. Ayat ini berkaitan dengan keadaan bani Israil yang saat itu benar-benar terpuruk, mereka terhinakan, lemah, dan tak berdaya. Lalu, mereka meminta Nabi mereka agar mengangkat seorang pemimpin dari kalangan mereka untuk mengubah keadaan yang mereka alami. Pemimpin yang mampu mengajak dan membangkitkan semangat mereka, yang mampu menyemangati mereka agar bangkit dari keterpurukan. Maka, Nabi mereka pun menunjuk seorang Thalut, pemuda papa lagi tak dikenal. Tentu saja mereka protes, bagaimana mungkin seorang pemuda macam Thalut menjadi pemimpin mereka? Apa tidak ada yang lain? Lalu, apa yang membuatnya spesial? bahkan hingga Allah sendiri lah yang memilih Thalut untuk memimpin mereka kala itu? Allah terangkan alasannya melalui lisan Nabi-Nya bahwa tiada lain tak bukan adalah karena Thalut dikaruniai intelektualitas yang bagus, bukan hanya kecerdasan horizontal saja, tapi juga keshalihan pribadi yang menjadi tolak ukur kecerdasan vertikalnya dengan Allah, dan juga Allah karuniakan dia keperkasaan fisik. Dua hal inilah yang kemudian membuatnya menjadi istimewa.
Dan saat ini, kita tentu tahu bahwa bani israil, orang-orang yahudi yang jumlahnya hanya puluhan juta, ternyata mampu memimpin hampir di segala sektor kehidupan. Jumlah mereka memang sedikit, tapi mereka menjadi pionir di bidangnya masing-masing. Seakan-akan mereka ingin membuktikan pada dunia bahwa mereka mampu bangkit dari keterpurukan yang dulu pernah mereka alami. Lihatlah nama-nama seperti Albert Einstein yang terkenal dengan e=mc2 nya, Mark Zuckeberg dengan Facebooknya, Sergey Brin dan Larry Page dengan mesin pencari Google yang dibuatnya, dan masih banyak lagi.
Lalu apa korelasinya dengan bahasan ini? Saat ini keadaan bangsa Indonesia seolah persis seperti yang pernah dialami oleh bani Israel kala itu bukan? Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, ternyata masih tertinggal dalam banyak hal dengan negara-negara adidaya laiknya Jepang, Australia, atau bahkan Singapura, bukankah begitu? Tentu kita perlu menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dan perlu dibenahi bukan? Maka, sebagai seorang muslim, kita perlu menilik lagi pada pedoman yang telah Allah gariskan. Ternyata Allah telah memberikan solusi untuk mengatasi keadaan ini. Solusi yang sangat sederhana dan jelas konsepnya seperti yang terkandung dalam Surat Al-Baqoroh ayat 247 diatas, yaitu ketajaman pikiran dan kekuatan fisik.
Ketika bangsa ini hendak menjadi bangsa yang memimpin peradaban dunia, maka yang pertama harus diperhatikan adalah peningkatan pendidikan, dengan cara memberikan pengajaran yang berkualitas kepada masyarakat, terutama pendidikan agama. Mereka perlu dipahamkan akan ajaran agamanya sejak usia dini sehingga generasi muda tidak merasa kebingungan, bingung mencari jati dirinya. Lalu yang kedua, yaitu menguatkan militer, cara yang paling sederhana, dengan mengajarkan pelatihan fisik sejak dini, membiasakan berolahraga, dan menjaga kesehatan jasmani sehingga mampu beraktivitas dan berkarya dengan lebih produktif.
Dua hal inilah profil minimal yang harus diupayakan oleh setiap muslim, cerdas akalnya dan tangguh fisiknya. Dalam lini apapun, insting untuk berpikir kritis ini perlu dibiasakan, juga insting untuk bersiap siaga ala militer, sigap tegap, dan berwibawa.

Mengaji, Memperbaiki Diri
Satu hal yang ingin saya bincangkan terkait dengan upaya perbaikan umat Islam di Indonesia, yaitu melalui pendidikan keagamaan, tidak perlu muluk-muluk, dimulai dengan hal yang sangat mendasar sekali. Misalnya, sudahkah orang-orang sekitaran kita bisa membaca Al-Quran dengan baik? Sudahkah mereka mampu mengaji? Sangat menyedihkan rasanya ketika mengetahui masyarakat di sekitar kita yang mengaku muslim, tapi ternyata tidak pernah membaca Al-Qur’an. Dan setelah ditelisik lebih jauh, ternyata yang menyebabkan mereka tidak membaca Al-Qur’an bukan karena mereka tidak sudi, melainkan bersebab mereka belum bisa melafadzkan aya-ayat Al-Qur’an. Subhanallah! Tentu ini menjadi ironi tersendiri, bagaimana mungkin mereka mampu memahami ajaran agamanya dengan baik, jika untuk melafadzkan Al-Qur’an saja, surat cinta dari Allah, mereka belum bisa. Tampaknya ini menjadi tugas kita bersama untuk mengentaskan buta huruf Al-Qur’an.
Saya teringat dengan pesan guru ketika akan lulus dari pesantren, “Ustadz tidak begitu bangga,” Imbuh beliau, Jika kamu jadi orang kaya kelak, tapi ustadz bangga sekali kalau kamu bisa mengajarkan Al-Qur’an, walaupun hanya menjadi guru ngaji di pelosok-pelosok desa,” Maka, saya sampaikan kepada mereka-mereka yang terus mengajarkan Al-Qur’an, para pengajar Taman Pendidikan Al-Qur’an, pengajar ngaji di surau-suaru desa, jangan sampai menganggap aktivitas mengajarkan Al-Qur’an sebagai kerjaan sampingan. Sadarlah, ini suatu pekerjaan besar. Dan bergembiralah! karena pada dasarnya saat kita mengajarkan Al-Qur’an, kita sedang mengemban tugas yang dulu pernah diemban oleh para Rasul yang mulia sebagaimana Allah abadikan dalam surat Al-Jumu’ah ayat 2, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
Sekali lagi, pada dasarnya saat kita mengajarkan Al-Qur’an, kita sedang membangun pondasi sebuah peradaban besar. Kita sedang mengupayakan kebangkitan dan kejayaan islam yang kita impikan bersama. Mungkin kita tidak tahu kapan waktunya tiba, tapi setidaknya kita tahu bahwa kita pernah memberikan kontribusi untuk membuatnya menjadi nyata!

Bisa Mengaji, Bisa Jadi Apapun
Tertulis rapi dalam laluan sejarah, bahwa para tokoh islam yang bertebarann karyanya , apapun karya-karya mereka, mereka adalah pribadi dan sosok yang rata-rata sudah ‘beres’ dengan Al-Qur’an sejak usia dini, mereka adalah orang-orang yang bisa mengaji sejak belia. Lihatlah nama-nama yang tidak asing lagi, seperti Shalahuddin Al-Ayyubi yang mampu merebut Al-Quds, Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan konstantinopel, Al-khawarizmi yang merumuskan aljabar, Ibnu Sina yang mengarang Al-Qonun fi Ath-Thibbnya, dan lain sebagainya. Kita juga sama-sama mengetahui bahwa dunia ini pernah berada dalam genggaman muslimin, dan itu terjadi ketika umat Islam berpegang teguh dengan Al-Qur’an. Mereka tidak hanya ‘mengaji’ dalam konteks melafalkan ayat Al-Qur’an sahaja, tapi juga ‘mengaji’ dalam arti yang lebih luas, meneliti makna-makna tersembunyi dalam Al-Qur’an, menelisik inspirasi yang terkandung di dalamnya, lalu menguji hipotesis yang mereka dapatkan sementara, hingga pada tahap selanjutnya mereka menerapkan apa yang mereka pelajari dari Al-Qur’an dalam bingkai kehidupan harian.
Pada akhirnya, saya katakan jangan terlalu mengkhawatirkan adik-adik kita, kakak-kakak kita, teman-teman kita, atau bahkan bangsa Indonesia ini akan jadi apa kelak. Kita perlu khawatir jika kelak anak-cucu kita tidak paham Al-Qur’an. kita perlu cemas jika anak cucu kita tidak mentadabburi dan tidak mengamalkan Al-Qur’an. Kita hanya perlu risau jika mereka tidak bisa mengaji. Selama mereka bisa mengaji, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Allah telah menjamin masa depan mereka yang mampu mengejawantahkan Al-Qur’an dalam keseharian, mengajarkan Al-Qur’an, dan pada waktunya nanti memperjuangkan Al-Qur’an, sebagaimana termaktub dalam Q.S An-Nur ayat 25, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa...”
Sekali lagi, kita tidak perlu meragukan masyarakat kita selama mereka mampu mengaji Al-Qur’an dengan benar, mengaji dalam arti yang lebih luas tentunya, tidak sekadar melafadzkan ayat-ayat, melainkan juga yang terpenting menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari perilakunya. Apapun profesi yang mereka jalani, apapun keahlian yang mereka miliki, apapun posisi yang mereka tempati, apapun jabatan yang mereka duduki, apapun itu, Insya Allah, mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang baik, elok, dan menawan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar