Kamis, 09 Juli 2015

Tazkiyatun Nafs, Konsep Penyucian Jiwa dalam Islam


sumber gambar: al-manar.co.id

Apa itu Tazkiyatun Nafs?
      Secara bahasa berasal dari dua kata, yaitu tazkiyah yang berarti menyucikan, membersihkan, serta menumbuhkan, karena itulah sedekah harta dinamakan zakat, dengan dikeluarkannya hak Allah dari harta itu, ia menjadi suci, bersih. Dan an-nafs yaitu jiwa.
Tazkiyatun nafs secara istilah maknanya mencakup, 1)Tathohhur, membersihkan jiwa dari segala penyakit hati dan cacat, seperti kekufuran, nifaaq, kefasikan, bid’ah, syirik, riya’, dengki, sombong, bakhil, cinta pangkat dan kedudukan, dhalim, cinta dunia, serta mengikuti hawa nafsu, 2)Tahaqquq, yaitu merealisasikan kesucian jiwa dengan sikap tauhid dan cabang-cabangnya seperti, ikhlas, zuhud, tawakkal, taqwa dan wara’, syukur, dan sabar. Serta 3)Takhalluq, yaitu berperilaku dengan nama-nama Allah yang indah (Asmaaul Husna) dan meneladani sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tazkiyatun nafs (membersihkan/menyucikan jiwa) merupakan salah satu misi diutusnya para Rasul di dunia disamping misi ta’lim (mengajarkan hidayah-Nya) dan tadzkir (memberi peringatan akan ayat-ayat-Nya), sebagaimana doa Nabi Ibrahim untuk anak cucunya,
“Wahai Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Baqoroh: 129].
Begitu pula jawaban dan karunia Allah atas umat ini dalam Al-Qur’an,
     “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. [Al-Baqoroh: 151].
           

Mengapa Perlu?
Sebagaimana disebutkan dalam nash yang shahih, para ulama’ merupakan pewaris para nabi, sehingga misi utama mereka adalah ta’lim, tadzkir, dan tazkiyah kepada umat. Namun, jarang sekali ketiga hal ini berhimpun pada seseorang, ada orang yang piawai dalam tadzkir (menyampaikan nasihat), tapi tidak banyak berilmu (banyak ta’limnya); ada orang yang berilmu (bagus ta’limnya) tapi tidak piawai dalam menyampaikan nasihat (tadzkir); ada orang yang berilmu dan piawai dalam menyampaikan nasihat tetapi tidak mampu melakukan tazkiyah. Siapa yang memiliki ketiga hal ini, maka ia adalah pewaris kenabian yang utuh karena ia telah memiliki ‘obat kehidupan’.
Saat ini, para murabbi (pendidik, pembina) dihadapkan pada berbagai kondisi umat yang begitu mengkhawatirkan; berbagai kemaksiatan merajalela, penyakit-penyakit hati tersebar luas, mu’amalah yang baik terasa sangat lemah, bahkan jihad dan amar ma’ruf nahi mungkar dianggap sesuatu yang asing. Maka siapapun (termasuk kita) yang ingin memperbaiki kehidupan pribadi dan sosial, menginginkan terjadinya revolusi mental dan akhlak, dan mengharapkan kembalinya kejayaan umat ini, harus berpikir untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, berhias dengan akhlak beliau, serta membersihkan jiwa (tazkiyah) dari berbagai naluri syaithoniyyah.
Fitrah manusia bisa terkontaminasi dan ternodai oleh penyakit dan masalah yang dapat muncul sepanjang zaman, disamping setiap zaman memiliki penyakit dan masalahnya sendiri. Semenjak abad pertama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, telah bermunculan aliran murji’ah, syi’ah, mu’tazilah dan khawarij. Inti ajaran murji’ah adalah meninggalkan amal. Inti syi’ah adalah berlebih-lebihan dalam masalah ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Inti ajaran khawarij adalah ketumpulan akal, terburu-buru mengkafirkan, tidak menghormati orang-orang yang memiliki keutamaan, dan iman mereka tidak melewati kerongkongan. Sementara inti ajaran mu’tazilah adalah terburu-buru melakukan ta’wil yang tidak ilmiah. Aliran-aliran seperti ini dianggap sebagai masalah sepanjang zaman yang bisa muncul terus menerus. Demikian juga penyakit yang terus menerus muncul di sepanjang zaman sebagaimana ditegaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Menjalar diantara kalian penyakit-penyakit umat sebelum kalian, yaitu dengki dan permusuhan…” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, hadits ini shahih).
            Disamping itu, setiap zaman punya penyakit dan masalahnya sendiri, diantara penyakit zaman kita sekarang adalah seperti yang diisyaratkan oleh beberapa nash,
“Ilmu yang pertama kali diangkat dari bumi adalah kekhusyukan(HR. Thabrani dengan sanad hasan).
“Tetapi kalian seperti buih banjir…dan sungguh Allah akan menanamkan dalam hati kalian…cinta dunia dan takut mati(HR. Abu Dawud dengan sanad hasan)
Kita dapat merasakan dan melihat bahwa zaman kita saat ini adalah zaman dimana kekhusyukan sangat sedikit, sementara sikap cinta dunia dan takut mati mendominasi umat ini. Ibadah-ibadah fardhu hanya dilakukan sebatas menggugurkan kewajiban saja, orang semakin disibukkan dengan berbagai urusan dunia, berlomba-lomba menumpuk kekayaan dan melupakan kampung akhirat.
Oleh karena itu, tentunya jiwa manusia sangat membutuhkan tazkiyah dari penyakit-penyakit tersebut. Maka, seorang ‘alim (guru atau syaikh) yang robbani ialah orang yang (dengan izin Allah) mampu mengobati dan menghilangkan penyakit-penyakit tersebut dari umat. Dan itulah tanda keberhasilannya dalam tazkiyah.
Siapapun yang mengharapkan Allah dan hari akhir, sudah seharusnya memperhatikan kebersihan jiwanya. Sungguh Allah telah menjadikan kebahagiaan seorang hamba tergantung kepada tazkiyatun nafs, sebagaimana disebutkan Allah dalam surat Asy-Syams setelah Allah bersumpah dengan sebelas sumpah secara beruntun, ini menunjukkan suatu keistimewaan yang tidak dimiliki hal lainnya.
“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syams: 9).
Perlu diingat, bahwa tujuan dari tazkiyatun nafs adalah muhasabah, yaitu melakukan introspeksi, koreksi, dan perbaikan terhadap niat, amalan, dan sikap kita. Bukan untuk kemudian menganggap suci diri dari kesalahan yang mana dilarang secara tegas oleh Allah Azza wa Jalla,
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui siapa yang bertakwa”. (QS. An-Najm: 32).

Sarana Tazkiyatun Nafs
            Sarana tazkiyah yang dimaksud disini adalah berbagai amal yang secara langsung mempengaruhi jiwa sehingga terbebas dari penyakit-penyakit, dan mampu merealisasikan iman dan akhlak islami jika dilakukan secara sempurna. Walaupun secara umum semua amalan bisa masuk dalam kategori ini, tetapi ada beberapa amalan yang lebih jelas pengaruhnya pada jiwa dibandingkan dengan amalan lainnya.
            Diantara amalan-amalan tersebut yang paling utama adalah shalat, zakat, infaq, puasa, haji, tilawah Al-Qur’an, dzikir dan tafakkur, mengingat kematian, muhasabah, muroqobah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, serta bersikap tawadhu’ (rendah hati). Tentunya itu semua didasari oleh sikap tauhid, membersihkan hati dari berbagai karat kesyirikan dan akibatya seperti, ‘ujub, riya’, dengki, dan lain sebagainya.
         Shalat berikut rukuk dan sujudnya akan membersihkan jiwa dari kesombongan kepada Allah, mengingatkan jiwa agar selalu istiqomah di atas perintah-Nya, serta mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat dan infaq mampu membersihkan jiwa dari sifat bakhil dan kikir, dan menyadarkan manusia bahwa pemilik harta sesungguhnya adalah Allah Azza wa jalla. Sementara puasa merupakan pembiasaan jiwa untuk mengendalikan syahwat perut dan kemaluan. Membaca Al-Qur’an dapat mengingatkan jiwa terhadap berbagai kesempurnaan, seorang mukmin akan tumbuh dan bertambah keimanannya jika dibacakan ayat-ayat-Nya, itulah sebabnya tilawah Al-Qur’an merupakan sarana tazkiyah. Dzikir dan fikir merupakan dua sejoli yang dapat memperdalam iman dan tauhid di dalam hati, serta membukakan hati manusia untuk menerima ayat-ayat-Nya. Mengingat kematian dapat menyadarkan seorang akan ketidakberdayaannya di hadapan Allah dan bahwa semua makhluk akan kembali pada-Nya. Muroqobah dan Muhasabah terhadap jiwa dapat menyegerakan taubat sehingga jiwa manusia terdorong untuk melakukan perbaikan. Dan tidak ada yang lebih efektif untuk menanamkan kebaikan pada jiwa serta menjauhkannya dari keburukan selain amar ma’ruf nahi munkar, maka orang yang tidak memerintahkan kebaikan dan tidak mencegah kemungkaran berhak mendapatkan laknat dari Allah sebagaimana Bani Israil yang enggan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Jihad merupakan sarana tazkiyah yang paling tinggi, tidak ada yang mampu melakukannya kecuali orang yang diberi keutamaan oleh Allah. Orang yang berjihad  di jalan Allah terbebas dari sifat kikir dan takut karena ia mengorbankan jiwa-Nya untuk Allah, dan mati syahid di jalan-Nya adalah penghapus dosa. Disamping itu semua, sikap tawadhu’ akan menjauhkan seseorang dari sombong dan ‘ujub (bangga diri), sekaligus memperkuat rasa kasih sayang dan lemah lembut kepada sesama muslim.

Buah dari Tazkiyatun Nafs
       Seseorang yang senantiasa bermuhasabah terhadap amal-amalnya, melakukan tazkiyah terhadap jiwanya dengan berbagai sarana tazkiyah secara sempurna dan memadai, sekaligus mempelajari, mengkaji, dan mengamalkan yang diketahuinya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah pasti akan tampak buah tazkiyah pada diri dan perilakunya, lisannya terjaga dari mengucap yang tidak semestinya, serta tercermin pada adab dan muamalahnya yang baik kepada Allah dan sesama manusia. Wallahu A’lam Bish Showab.

           
Referensi:
- Al-Mustakhlis fii Tazkiyatil Anfus, karya Syaikh Sa’id Hawwa
- Tazkiyatun Nafs wa Tarbiyatuha kama Yuqorriruhu ‘Ulama’ as-Salaf, karya Dr. Ahmad Farid