Minggu, 14 Februari 2016

Untukmu Penghafal Al-Qur’an (Part 1)



Untukmu penghafal Al-Qur’an...
kutulis pesan ini terutama sebagai pengingat diriku yang sering alpa, juga untukmu yang menginginkan dirindu surga. Walaupun kita terpisah ruang waktu dan terbedakan oleh usia dan suku, Mudah-mudahan kelak Allah jadikan Al-Qur’an alasan pembela kita, dan Allah pertemukan kita di surga-Nya. 

Untukmu wahai sang penghafal Al-Quran,
Yang sedang dan terus berusaha menghafalkan ayat-ayat-Nya yang mulia,
Pada dasarnya saat kau mulai pancangkan ‘azm untuk menghafal, saat itulah kau memutuskan untuk menjadi barisan pengandung Al-Qur’an.
Maka, berapapun juz-juz Al-Qur’an yang kau hafal, kau tetaplah seorang penghafal Al-Qur’an.
karena bagiamanapun kau akan terus berusaha menyelesaikan hafalanmu bukan?
Lalu, apa yang menghalangimu untuk tidak siap jika mereka tahu kaulah Sang Pengandung Al-Qur’an itu?
Bukankah memang itu kau?
Bukankah seharusnya kau bangga dengan yang ada padamu?

Untukmu penghafal kalam ilahi,
Yang terus melisankan tilawah merdumu dengan segenap kesungguhan hati,
Yang terus berusaha menyempurnakan laku-laku agar sesuai dengan ayat yang dibaca,
Pada dasarnya saat kau ber-azm untuk menghafalkan kitabullah, saat itulah kau memutuskan untuk menerima amanah sebagai penjaga Al-Qur’an.
Lalu, mengapa kau masih malu-malu menyembul keluar menampakkan identitasmu sebagai pengemban Al-Qur’an? Bukankah kau adalah keluarga dan staf khusus Allah di bumi?
Bukanlah sekarang waktumu untuk menunduk-nunduk bersembunyi. 
Sekaranglah saatnya kau keluar dari peraduanmu, lihatlah! umat begitu membutuhkan kehadiranmu.

Untukmu duhai pelantun Al-Qur'an di saat ramai dan senyap..
Yang terus berusaha menjaga dari yang tidak semestinya dilayangkan pandang,
Bukankah Allah telah mengangkat derajatmu dengan Al-Qur’an?
Lalu, Apa yang menghalangimu untuk ragu melangkah, menapaki tapak-tapak kehidupan ini dengan sigap tegap?
Bukanlah saatnya untuk terus diam dan menaruh malu di hadapanmu, itu bukan jiwamu!
Sekaranglah saatmu menaruh malu di bawah kaki, kaulah yang mereka tunggu.
Maka mari bersama memunculkan diri, membangun lekatan citra diri kita di hadapan Allah, agar Dia memberikan lekatan citra diri kita di hadapan manusia.

Untukmu wahai yang selalu menetapi tartil dalam bacaan Al-Qur'anmu..
Yang seluruh penjuru langit dan bumi bahkan iri terhadap sesuatu pada dirimu...
Yang terus berusaha menjaga tanganmu agar tidak menyentuh yang tidak selayaknya diletakkan sentuhan.
Apakah yang masih menggelayut di pikiranmu hingga kau tidak percaya diri?
Bukanlah sekarang saat yang tepat untuk menyendiri, bergumul dengan keshalihan diri. 
Bukankah kau tidak rela jika kau mutiara, sementara sekelilingmu tetap gelap gulita?

Untukmu wahai penghafal Al-Qur’an..
Yang terus berusaha agar Al-Qur’an tidak hanya di lisanmu, tapi juga merasuk dalam sanubarimu, dan mengakar dalam jiwamu
Ingatlah anugerah yang diberikan Allah padamu berupa hafalan Al-Qur’an..
Ingatlah, bukan sekarang saatnya meneguk-neguk pujian itu.
Sekaranglah waktumu untuk berkuah peluh dengan aksi terbaikmu, lihatlah! mereka butuh pengajaranmu. Sesungguhnya balasanmu sudah disiapkan di sisi Rabb Yang Maha Tinggi.

Untukmu penghafal kalam ilahi,
Yang selalu berusaha menjaga hatimu dari tempelan noda-noda yang tak perlu,
Yang bahkan Allah sendiri lah yang telah mengkhususkanmu..
Bukankah kau tahu, siapa yang beramal karena selain Allah maka ia telah berbuat syirik?
Bukankah kau tahu, siapa yang tidak beramal karena manusia maka ia telah berbuat riya’?
Maka, apakah yang membuatmu masih terlihat bimbang jika manusia mengetahuimu..
Ini bukanlah soal riya’ dan ajang berbangga diri kawan..
Ini soal menjaga keikhlasan dalam beramal.

Untukmu, wahai penghafal Al-Qur’an,
Yang terus berusaha menjaga agar langkah kakimu tidak berbelok kepada yang bukan semestinya dituju
Yang selalu memohonkan ampunan Rabb-mu untuk seluruh muslimin..
Bukankah kau tahu bahwa memang syaithan itu sang penggoda?
Bukankah ia yang berbisik agar kau tak jadi beramal dengan dalih supaya tidak ujub,  riya' maupun sum’ah?
Maka, buanglah jauh-jauh bersitan pikiran itu, mintalah perlindungan kepada-Nya, dan munculkanlah dirimu ke permukaan, sambil terus membawa panji Al-Qur’an

Untukmu, wahai penghafal kalam ilahi,
Yang terus memupuk lekatan citra diri dengan akhlak Rasulullah,
Bukankah beliau sudah dikenal Al-Amin sejak sebelum di utus menjadi Rasul?
Seandainya beliau berpikir khawatir berbuat riya’ kala itu, tentu beliau tidak akan dijuluki Al-Amin bukan?
Itulah yang disebut ‘branding’ diri, jauh dari sekadar pencitraan semata..
Itulah yang disebut berdakwah dengan penampilan, dengan kepribadian
Ingatlah, melakukan branding diri ini bukanlah yang kita tuju,
Ianya hanyalah sarana agar kebaikan yang kita seru menggaung lebih besar
Ianya hanyalah wasilah agar keshalihan pribadi yang kita dakwahkan lebih mudah diterima manusia.
Maka, mari bersama kita membangun branding itu, sesuai dengan bidang yang kau tekuni, profesi yang kau jalani, posisi yang kau tempati, dan keahlian yang kau miliki.

Untukmu duhai pembawa panji-panji Al-Qur'an
Bukankah kau sudah sadar sekarang, bahwa mewujudkan branding diri tidak bisa serta merta begitu saja?
Bukankah kau sudah sadar sekarang, bahwa kau tidak bisa terus menerus menyembul malu-malu seperti mentari pagi hari?
Bukankah kau sudah sadar sekarang, bahwa kau tidak bisa terus terlelap menidurkan diri, menjauhi khalayak ramai?
Ya, inilah saatnya bagimu menunjukkan aksi nyatamu..
Kaulah yang mereka damba, kaulah yang mereka tunggu..

"Ya Allah, jadikanlah Al-Qur'an hujjah alasan pembela bagi kami, bukan hujjah alasan pemberat atas kami"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar